Flag Counter

Rabu, 05 November 2014

Rahasia yang Terpendam Untuk Selamanya



Mobil March abu-abu melaju kencang dari arah barat. Di dalamnya pun terputar musik dengan suara keras. Si Pengemudi menyetir dengan gila-gilaan. Dibantingnya setir ke kanan lalu ke kiri. Tubuhnya bergerak mengikuti alunan musik yang ada. Tak lupa, ia pun ikut menyanyikan dengan suara yang tak beres. Tanpa ia sadari, dari arah berlawanan melaju dengan kencang mobil sedan berwarna putih. Melihat cahaya datang dari arah datang membuat pengemudi mobil March membanting setirnya ke arah kiri hingga menabrak ke pohon besar.
Matanya terbuka dan kepalanya sangat pusing. Ia mencoba mengangkat kepalanya yang ada di atas setir. Ia melihat darah mengalir dari kepalanya. “Arrgh. Sial.” Umpatnya.
Sekuat tenaga, ia membuka pintu mobilnya. Ia membutuhkan pertolongan.
Ia melangkah keluar  berjalan menyusuri jalanan. Tak ada satupun mobil yang lewat dan hari sepertinya masih malam. Ia terus berjalan dengan keadaan mengenaskan. Darahnya terus mengalir dan rasa pusing begitu kuat di kepalanya.
Tiba-tiba dari belakangnya, melaju mobil dengan kecepatan tinggi yang tak bisa mengendalikan arah jalannya hingga akhirnya mobil itu menabrak pengemudi mobil March tadi hingga terlempar jauh.
***
“TUHAN EMANG ENGGAK PERNAH ADIL SAMA AKU!” Teriak seorang gadis sambil melempar gelas yang ia bawa.
Olif, itulah namanya. Ia berumur 16 tahun. Dulu kehidupannya seperti anak-anak remaja yang lain. Sekolah umum, Hang Out dan juga belajar bersama dengan teman-temannya. Tapi semua itu berubah ketika sebuah kecelakaan menimpanya.
Ketika Olif tahu bahwa ia tak bisa melihat lagi seperti dulu, ia sangat sedih. Setiap hari ia menangis. Melempar semua barang yang ia sentuh. Seperti saat ini, berteriak kencang, menangis dan melempar barang-barang.
Olif, kamu ga boleh gitu, nak. Ini semua cobaan buat kamu. Tuhan sayang sama kamu. Tuhan Cuma mau lihat sampai mana tingkat kesabaranmu, nak. Kamu ga boleh bilang kalau Tuhan itu enggak adil. Dosa, nak! Dosa!” Mamanya, mengingatkannya sambil memeluk anak yang ia sayangi itu.
Olif terus menangis kencang. Air mata tak henti-hentinya keluar dari matanya. Mamanya ikut menangis melihat kondisi anaknya yang semakin lama semakin memburuk. Mamanya tak pernah menyangka hal seperti ini akan menimpa anaknya. Setiap hari ia berdoa kepada Allah agar keadaan putrinya membaik. Tapi, sepertinya belum waktunya Allah mengabulkan permintaannya.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu. “Bi Imah, bukakan pintu! Sepertinya ada tamu.” Lalu, seorang perempuan setengah baya keluar dan membukakan pintu. Berdirilah seorang pria muda, ya kira-kira seorang mahasiswa. Pria tersebut mengucapkan salam dan bertanya “Ada Rangganya bu? Saya temannya, Adrian.”
Bi Imah pun menjawab “Ada, den. Bentar ya den, saya panggilkan dulu. Aden, masuk aja.” Pria yang bernama Adrian itu pun mengangguk dan masuk. Ia duduk di sofa yang berada di ruang tamu. Beberapa menit kemudian, Rangga datang menghampirinya. “Woy, yan. Ada apa nih? Tumben main ke rumah gue.”
Adrian menoleh ke asal suara. “Eh Elu Ngga. Ini, gue lagi main aja ke Bandung. Terus gue lewat depan rumah lo. Belok deh kesini.” Jawabnya.
“Apa kabar lo, yan? Gimana kuliah di jakartanya? Seru?” tanya Angga. “Ya, seperti yang elo liat sekarang. Keadaan gue baik-baik aja. Kuliahnya, asik-asik aja sih. Tapi beda pergaulannya sama disini.” Jawabnya “Disana tuh orang-orangnya berpikiran kalau semua itu bisa dibeli dengan uang.” Lanjutnya. “Ya, bedalah bro. Disana itu isinya orang-orang yang berduit.” Sahut Angga, mengomentari.
Tiba-tiba, Olif keluar dari kamar dengan tongkatnya. Saat Adrian, melihatnya ia teringat dengan wanita yang ia tabrak di perjalanan pulang ke bandung. “Ngga, itu adek lo ya? Dia buta?” tanya Adrian penasaran sekaligus memastikan kalau wanita itu bukanlah gadis yang ia tabrak. Angga menoleh ke arah yang Adrian tunjukkan, lalu mengangguk. “Dia ditabrak orang pas perjalanan pulang ke rumah. Awalnya dia ditabrak sama mobilnya. Dianya selamet. Pas jalan mau cari bantuan, dia ditabrak lari sama orang. Sumpah, rasanya pengen gue bunuh tuh orang. Ga tanggung jawab banget!” Mengingat kejadian itu membuat Angga naik darah.
Adrian menelah ludah. Berarti wanita itu? Wanita yang malam itu ia tabrak? Wanita yang ia biarkan terkapar di pinggir jalan. Adrian merasa bersalah dengan semua yang ia lakukan kepada adik Angga, Olif.
“Gue turut sedih aja ya, sama kejadian yang nimpa adek lo.” Ucap Adrian tanpa mengalihkan pandangannya dari Olif.
“Udah, yan. Jangan ngeliatin adek gue terus nanti suka lagi.” Canda Angga diiringi dengan tawa kecil.
“Enak aja lo ngomong.” Sahut Adrian. Di dalam hatinya, Adrian bertekad untuk meminta maaf kepada Olif. Entah bagaimana caranya.
***
Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan pun berganti bulan. Sudah 4 bulan Adrian menjadi teman Olif. Meskipun ia kuliah di Jakarta tapi ia sempatkan untuk main ke rumah Olif setiap minggu. Seperti pada hari ini, Adrian mengajak Olif ke sebuah danau.
“Kak, Aku yakin banget deh, pasti danaunya bagus. Andai aku bisa...” Olif berhenti berbicara karena Olif ingat bahwa Adrian sangat tidak suka jika Olif berkata seperti itu. “Maaf, kak. Aku lupa.” Ucapnya.
Adrian tersenyum kecil mendengarnya, senang ketika tahu jika Olif ingat dengan perkataannya dulu. “Jangan pernah mengeluh dengan keadaanmu saat ini, karena Tuhan selalu memberikan yang terbaik untuk kita, meskipun terselip kekurangan disana.”
“Iya gapapa.” Sahut Adrian. “Pas kakak kecil, kakak sering banget main ke danau ini. Kakak ngerasa kalau danau ini tuh bisa bikin kakak tenang. Gatau deh kenapa.”
“Oh iya, kak. Katanya mas Angga, kakak jago nyanyi ya. Boleh enggak kakak nyanyi satu lagu aja buat aku?” pinta Olif.
Adrian diam, berpikir sejenak. “Yaudah, kamu yang milih lagu atau kakak yang milih sendiri?” tanya Adrian. “Kakak aja.” Jawabnya.
Adrian mengangguk, tak sadar jika Olif tak akan melihat anggukannya. Adrian memilih sebuah lagu dari One Direction yang memang-memang akhir-akhir ini ia sering nyanyikan.
Am I asleep, am I awake, or somewhere in between?
I can’t believe that you are here and lying next to me
Or did I dream that we were perfectly entwined?
Like branches on a tree, or twigs caught on a vine?
Truly, madly, deeply, I am
Foolishly, completely falling
And somehow you kicked all my walls in
So baby, say you’ll always keep me
Truly, madly, crazy, deeply in love with you
In love with you

Entah kenapa saat menyanyikan lagu ini, bayangan Adrian kembali pada saat-saat ia melihat OLif yang berjalan dengan tongkatnya. Lalu, saat Adrian pertama kali menyapanya di taman belakang rumah Olif.
Selain itu juga, saat Adrian mengajaknya berjalan-jalan ke taman kota. Adrian tak tahu kenapa bayangan itu muncul kembali. Adrian menatap Olif dalam-dalam dan tersadar saat itulah jantungnya berdegup kencang.
Dan akhirnya Adrian berkata, “Truly, madly, crazy, deeply in love with you.” Mendengar semua itu membuat Olif menoleh, “Maksud kakak apa?” tanya Olif, polos. “Maksudnya kakak itu, kalau kakak sayang sama kamu.”
***
Mendengar semua yang dikatakan oleh Adrian membuat Olif senang sendiri. Sepanjang perjalanan pulang ia selalu tersenyum ketika mengingat kata-kata yang keluar dari mulut Adrian. Sebenarnya, sudah lama OLif menyukai Adrian. Bahkan dari sebelum ia buta. Ia pernah melihat Adrian saat Adrian main ke rumahnya untuk belajar bersama kakaknya, Angga. Tapi, ia tak berani keluar dari kamarnya sehingga Adrian tak pernah melihat Olif disana.
“Kak, makasih ya kak. Kakak udah buat aku senang. Keadaanku sekarang udah ga kaya dulu lagi yang sering nangis, terus ngeluh. Semenjak ada kakak aku lebih semangat hidup. Makasih ya kak.” Ucap Olif, tulus dari hatinya.
“Iya, Olif. Kakak juga seneng banget bisa kenal kamu. Kamu tuh lucu, ceria, dan kamu juga cepat bisa menerima keadaan. Ohya, kamu juga udah buat hari-hari kakak jadi lebih berwarna. Makasih ya.” Kini, Adrian yang berterima kasih kepada Olif.
Tanpa disadari, dari tikungan muncul sebuah truk yang melaju kencang dan akhirnya...
BRAKKKK!
***
Truly, madly, crazy, deeply in love with you
In love with you
Olif menatap lurus ke arah danau. Mengingat semua masa lalunya bersama Adrian. Semenjak kepergian Adrian, Olif sering sekali berdiam diri di danau ini. Danau dimana Adrian mengungkap rasa hatinya.
Selain itu, Olif juga sudah bisa melihat. Adrian merelakan matanya untuk didonorkan kepada Olif agar Olif bisa melihat kembali. Olif selalu mengingat kata-kata Adrian yang terakhir “Apa yang akan kakak berikan ke kamu, itu adalah ungkapan permintaan maaf kakak buat semuanya. Dan ingatlah bahwa kakak akan selalu ada di hatimu dan juga di matamu. Terima kasih Olif.”
Itulah kata-kata terakhir sebelum Tuhan mengambil nyawa Adrian. Olif sadar bahwa Olif bisa merasakan keberadaan Adrian saat ia melihat dan saat ia memejamkan mata, bayangan Adrian pun muncul. Ia bisa merasakannya setiap saat.
Olif.” Seseorang memanggilnya. Olif menoleh, ternyata kakaknya, Angga. “Ayo, cepetan. Udah jam satu nih. Jam 2 kita harus take off. Gamungkin kan kalau kita telat naik pesawat Cuma gara-gara kamu disini. Ayo cepetan.”
“Emm, iya kak.”Olif beranjak dari duduknya dan segera mengikuti langkah Angga. Sebelum ia masuk ke dalam mobil ia berkata “Selamat tinggal, Kak. Semua kenangan kita yang ada disini udah aku disimpan di dalam hatiku dan akan aku bawa kemana pun aku pergi. Terima kasih kak. Terima kasih banyak.”
Dan Olif pun masuk ke dalam mobil. Hingga akhirnya mobil tersebut melaju meninggalkan danau tersebut.
Sampai saat ini, Olif pun tidak tahu jika Adrian lah yang menyebabkan dirinya menjadi buta seperti waktu itu.
-THE END-


Created By : Lela JeniVanila

Tidak ada komentar:

Posting Komentar