Mobil March abu-abu melaju kencang dari arah barat. Di dalamnya pun
terputar musik dengan suara keras. Si Pengemudi menyetir dengan gila-gilaan.
Dibantingnya setir ke kanan lalu ke kiri. Tubuhnya bergerak mengikuti alunan
musik yang ada. Tak lupa, ia pun ikut menyanyikan dengan suara yang tak beres.
Tanpa ia sadari, dari arah berlawanan melaju dengan kencang mobil sedan
berwarna putih. Melihat cahaya datang dari arah datang membuat pengemudi mobil
March membanting setirnya ke arah kiri hingga menabrak ke pohon besar.
Matanya terbuka dan kepalanya sangat pusing. Ia mencoba mengangkat
kepalanya yang ada di atas setir. Ia melihat darah mengalir dari kepalanya.
“Arrgh. Sial.” Umpatnya.
Sekuat tenaga, ia membuka pintu mobilnya. Ia membutuhkan pertolongan.
Ia melangkah keluar berjalan
menyusuri jalanan. Tak ada satupun mobil yang lewat dan hari sepertinya masih
malam. Ia terus berjalan dengan keadaan mengenaskan. Darahnya terus mengalir
dan rasa pusing begitu kuat di kepalanya.
Tiba-tiba dari belakangnya, melaju mobil dengan kecepatan tinggi yang tak
bisa mengendalikan arah jalannya hingga akhirnya mobil itu menabrak pengemudi
mobil March tadi hingga terlempar jauh.
***
“TUHAN EMANG ENGGAK PERNAH ADIL SAMA
AKU!” Teriak seorang gadis sambil melempar gelas yang ia bawa.
Olif, itulah namanya. Ia berumur 16
tahun. Dulu kehidupannya seperti anak-anak remaja yang lain. Sekolah umum, Hang
Out dan juga belajar bersama dengan teman-temannya. Tapi semua itu berubah
ketika sebuah kecelakaan menimpanya.
Ketika Olif tahu bahwa ia tak bisa melihat lagi
seperti dulu, ia sangat sedih. Setiap hari ia menangis. Melempar semua barang
yang ia sentuh. Seperti saat ini, berteriak kencang, menangis dan melempar
barang-barang.
“Olif, kamu ga boleh gitu, nak. Ini semua
cobaan buat kamu. Tuhan sayang sama kamu. Tuhan Cuma mau lihat sampai mana
tingkat kesabaranmu, nak. Kamu ga boleh bilang kalau Tuhan itu enggak adil.
Dosa, nak! Dosa!” Mamanya, mengingatkannya sambil memeluk anak yang ia sayangi
itu.
Olif terus menangis kencang. Air mata tak
henti-hentinya keluar dari matanya. Mamanya ikut menangis melihat kondisi
anaknya yang semakin lama semakin memburuk. Mamanya tak pernah menyangka hal
seperti ini akan menimpa anaknya. Setiap hari ia berdoa kepada Allah agar
keadaan putrinya membaik. Tapi, sepertinya belum waktunya Allah mengabulkan
permintaannya.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu.
“Bi Imah, bukakan pintu! Sepertinya ada tamu.” Lalu, seorang perempuan setengah
baya keluar dan membukakan pintu. Berdirilah seorang pria muda, ya kira-kira
seorang mahasiswa. Pria tersebut mengucapkan salam dan bertanya “Ada Rangganya
bu? Saya temannya, Adrian.”
Bi Imah pun menjawab “Ada, den.
Bentar ya den, saya panggilkan dulu. Aden, masuk aja.” Pria yang bernama Adrian
itu pun mengangguk dan masuk. Ia duduk di sofa yang berada di ruang tamu.
Beberapa menit kemudian, Rangga datang menghampirinya. “Woy, yan. Ada apa nih?
Tumben main ke rumah gue.”
Adrian menoleh ke asal suara. “Eh Elu
Ngga. Ini, gue lagi main aja ke Bandung. Terus gue lewat depan rumah lo. Belok
deh kesini.” Jawabnya.
“Apa kabar lo, yan? Gimana kuliah di
jakartanya? Seru?” tanya Angga. “Ya, seperti yang elo liat sekarang. Keadaan
gue baik-baik aja. Kuliahnya, asik-asik aja sih. Tapi beda pergaulannya sama
disini.” Jawabnya “Disana tuh orang-orangnya berpikiran kalau semua itu bisa
dibeli dengan uang.” Lanjutnya. “Ya, bedalah bro. Disana itu isinya orang-orang
yang berduit.” Sahut Angga, mengomentari.
Tiba-tiba, Olif keluar dari kamar dengan tongkatnya.
Saat Adrian, melihatnya ia teringat dengan wanita yang ia tabrak di perjalanan
pulang ke bandung. “Ngga, itu adek lo ya? Dia buta?” tanya Adrian penasaran
sekaligus memastikan kalau wanita itu bukanlah gadis yang ia tabrak. Angga
menoleh ke arah yang Adrian tunjukkan, lalu mengangguk. “Dia ditabrak orang pas
perjalanan pulang ke rumah. Awalnya dia ditabrak sama mobilnya. Dianya selamet.
Pas jalan mau cari bantuan, dia ditabrak lari sama orang. Sumpah, rasanya
pengen gue bunuh tuh orang. Ga tanggung jawab banget!” Mengingat kejadian itu
membuat Angga naik darah.
Adrian menelah ludah. Berarti wanita
itu? Wanita yang malam itu ia tabrak? Wanita yang ia biarkan terkapar di
pinggir jalan. Adrian merasa bersalah dengan semua yang ia lakukan kepada adik
Angga, Olif.
“Gue turut sedih aja ya, sama kejadian
yang nimpa adek lo.” Ucap Adrian tanpa mengalihkan pandangannya dari Olif.
“Udah, yan. Jangan ngeliatin adek gue
terus nanti suka lagi.” Canda Angga diiringi dengan tawa kecil.
“Enak aja lo ngomong.” Sahut Adrian.
Di dalam hatinya, Adrian bertekad untuk meminta maaf kepada Olif. Entah bagaimana caranya.
***
Hari berganti hari, minggu berganti
minggu dan bulan pun berganti bulan. Sudah 4 bulan Adrian menjadi teman Olif. Meskipun ia kuliah di Jakarta tapi
ia sempatkan untuk main ke rumah Olif setiap minggu. Seperti pada hari ini, Adrian mengajak
Olif ke sebuah
danau.
“Kak, Aku yakin banget deh, pasti
danaunya bagus. Andai aku bisa...” Olif berhenti berbicara karena Olif ingat bahwa Adrian sangat tidak suka
jika Olif berkata seperti itu. “Maaf, kak. Aku lupa.” Ucapnya.
Adrian tersenyum kecil mendengarnya,
senang ketika tahu jika Olif ingat dengan perkataannya dulu. “Jangan pernah mengeluh dengan keadaanmu saat ini, karena Tuhan
selalu memberikan yang terbaik untuk kita, meskipun terselip kekurangan
disana.”
“Iya gapapa.” Sahut Adrian. “Pas
kakak kecil, kakak sering banget main ke danau ini. Kakak ngerasa kalau danau
ini tuh bisa bikin kakak tenang. Gatau deh kenapa.”
“Oh iya, kak. Katanya mas Angga,
kakak jago nyanyi ya. Boleh enggak kakak nyanyi satu lagu aja buat aku?” pinta Olif.
Adrian diam, berpikir sejenak.
“Yaudah, kamu yang milih lagu atau kakak yang milih sendiri?” tanya Adrian.
“Kakak aja.” Jawabnya.
Adrian mengangguk, tak sadar jika Olif tak akan melihat anggukannya. Adrian
memilih sebuah lagu dari One Direction yang memang-memang akhir-akhir ini
ia sering nyanyikan.
Am
I asleep, am I awake, or somewhere in between?
I
can’t believe that you are here and lying next to me
Or
did I dream that we were perfectly entwined?
Like
branches on a tree, or twigs caught on a vine?
Truly,
madly, deeply, I am
Foolishly,
completely falling
And
somehow you kicked all my walls in
So
baby, say you’ll always keep me
Truly,
madly, crazy, deeply in love with you
In
love with you
Entah kenapa saat menyanyikan lagu ini,
bayangan Adrian kembali pada saat-saat ia melihat OLif yang berjalan dengan tongkatnya. Lalu, saat Adrian
pertama kali menyapanya di taman belakang rumah Olif.
Selain itu juga, saat Adrian mengajaknya
berjalan-jalan ke taman kota. Adrian tak tahu kenapa bayangan itu muncul
kembali. Adrian menatap Olif dalam-dalam
dan tersadar saat itulah jantungnya berdegup kencang.
Dan akhirnya Adrian berkata, “Truly,
madly, crazy, deeply in love with you.” Mendengar semua itu membuat Olif menoleh, “Maksud kakak apa?” tanya Olif, polos. “Maksudnya kakak itu, kalau kakak sayang sama
kamu.”
***
Mendengar semua yang dikatakan oleh
Adrian membuat Olif senang sendiri. Sepanjang
perjalanan pulang ia selalu tersenyum ketika mengingat kata-kata yang keluar
dari mulut Adrian. Sebenarnya, sudah lama OLif menyukai Adrian. Bahkan dari sebelum ia buta. Ia
pernah melihat Adrian saat Adrian main ke rumahnya untuk belajar bersama kakaknya,
Angga. Tapi, ia tak berani keluar dari kamarnya sehingga Adrian tak pernah
melihat Olif disana.
“Kak, makasih ya kak. Kakak udah buat
aku senang. Keadaanku sekarang udah ga kaya dulu lagi yang sering nangis, terus
ngeluh. Semenjak ada kakak aku lebih semangat hidup. Makasih ya kak.” Ucap Olif, tulus dari hatinya.
“Iya, Olif. Kakak juga seneng banget bisa kenal kamu. Kamu tuh
lucu, ceria, dan kamu juga cepat bisa menerima keadaan. Ohya, kamu juga udah
buat hari-hari kakak jadi lebih berwarna. Makasih ya.” Kini, Adrian yang
berterima kasih kepada Olif.
Tanpa disadari, dari tikungan muncul
sebuah truk yang melaju kencang dan akhirnya...
BRAKKKK!
***
Truly,
madly, crazy, deeply in love with you
In
love with you
Olif menatap lurus ke arah danau.
Mengingat semua masa lalunya bersama Adrian. Semenjak kepergian Adrian, Olif sering sekali berdiam diri di
danau ini. Danau dimana Adrian mengungkap rasa hatinya.
Selain
itu, Olif
juga sudah bisa melihat. Adrian merelakan matanya untuk didonorkan kepada Olif agar Olif bisa melihat kembali. Olif selalu mengingat kata-kata Adrian
yang terakhir “Apa yang akan kakak berikan ke kamu, itu adalah ungkapan
permintaan maaf kakak buat semuanya. Dan ingatlah bahwa kakak akan selalu ada
di hatimu dan juga di matamu. Terima kasih Olif.”
Itulah
kata-kata terakhir sebelum Tuhan mengambil nyawa Adrian. Olif sadar bahwa Olif bisa merasakan keberadaan Adrian
saat ia melihat dan saat ia memejamkan mata, bayangan Adrian pun muncul. Ia bisa merasakannya
setiap saat.
“Olif.” Seseorang memanggilnya. Olif menoleh, ternyata kakaknya,
Angga. “Ayo, cepetan. Udah jam satu nih. Jam 2 kita harus take off. Gamungkin
kan kalau kita telat naik pesawat Cuma gara-gara kamu disini. Ayo cepetan.”
“Emm,
iya kak.”Olif
beranjak dari duduknya dan segera mengikuti langkah Angga. Sebelum ia masuk ke
dalam mobil ia berkata “Selamat tinggal, Kak. Semua kenangan kita yang ada
disini udah aku disimpan di dalam hatiku dan akan aku bawa kemana pun aku pergi.
Terima kasih kak. Terima kasih banyak.”
Dan
Olif pun masuk ke
dalam mobil. Hingga akhirnya mobil tersebut melaju meninggalkan danau tersebut.
Sampai
saat ini, Olif
pun tidak tahu jika Adrian lah yang menyebabkan dirinya menjadi buta seperti
waktu itu.
-THE
END-
Created By : Lela JeniVanila
